Minggu, Februari 07, 2010

Jangan Pulang Sebelum Padam

Dingin tapi hampa. Ada kesunyian yang merayap di tengah raga yang menggelora. Seperti repihan senyawa yang bercecer diantara sekian reaksi. Berasa meledak tapi tak bernyali. Hanya diam tapi ingin bergelinjang. Ah, mati aku.

***

Bergeming Dia, diantara Aku. Oh salah, bergeming Aku diantara Dia. Dia yang berada tepat di hadapanKu dengan geloranya. Gelora yang sama dengan geliat tarian bunga-bunga di musim semi. Seksi. Seksi sekali. Ingin rasanya semua kulumat utuh tanpa menyisakan repihan.

“Nyam-nyam-nyam.”

Pastinya akan jadi sebuah lumatan fenomenal. Andai Aku melumatnya sambil bersiul. Siulan kenikmatan.

“Du-du-du-la-la-la-la...”

Dan Dia di seberang sana tampak mengerang. Mengerang dalam kenikmatan.

“Ahh,-“

Aku hanya tersipu. Malu-malu menatap binar mata yang beradu diantara Kami. Aku menunduk salah tingkah dan mengumpulkan jiwa biar beradu dengan rasanya mencapai titik kenikmatan tertinggi. Si orang ketiga yang bernama o-r-g-a-s-m-e.

“Hai Nona atau Tuan Orgasme,” sapa Dia.

Aku hanya diam tetap tersipu malu. Tuan atau Nona Orgasme mengangkat daguKu dan menatapKu lekat. Selekat beuleukat. Aku menunduk memastikan bagian tubuhKu tidak ada yang menggelinjang senang.

“Apa kabarmu?” ujar Tuan atau Nona Orgasme lembut.

Aku hanya mengangguk pelan. Tak berani menjawab. Terpekur dalam diam labilKu ingin menjawab tapi berpikir apa harus?

Tapi di dalam sini semua sedang berpesta pora senang. Girang. Laksana mendapat undian sepekan di petang hari. Dan sedang menari di atas gunungan lembaran kupon undian yang berserakan di padang pasir.

“Syubidub la-bamba. Tra-la-la-la.”

Tapi.
Tapi ya itu tadi. Itu rekayasaKu amoralKu. Kenikmatan dalam imaji yang tak terpenjara tapi memilih bergeming saja. Ayo diam. Dan hanya diam. Tanpa suara. Tanpa gerakan. Tanpa desahan. Bisakah diam?
Aku melirik ke arah Dia yang menggeleng. Cucuran keringat menetes dari segala penjuru tubuhnya. Aku hanya menutup mata. Tuan atau Nona Orgasme sedang menonton pergulatan ini dengan berdebar.
Aku sudah tak tahan untuk diam. Satu klip-on yang tersangkut di antara properti milik Ntah Siapa di dalam sini Aku tarik paksa dan sekatkan di antara bibirKu.

“Uhh. Oohh,” suara desahanKu perlahan.

Berusaha menahan. Sepelan mungkin. Sehalus mungkin. Dan berjaga agar terdengar tidak sumbang.

“Ohhh...”

Satu desahan yang Aku coba nyanyikan. Dia tersenyum dalam basuhan peluhnya yang semakin deras menetes.

“Hanya itu rasanya?”

Tiba-tiba Tuan atau Nona Orgasme tepat berada di depan wajah binalKu. Aku tersipu.
Dia semakin menggelinjang dan berguncang. Aku kaget. RasaKu tiba-tiba menghilang.
Erangan nikmatKu berganti makian. “Bajingan.”

“Ahhhhhhhhh..”

Suara panjang berdesah tanpa jeda bergema di sekitar ruang properti tepat pada saat satu guyuran bagai banjir bandang menerjang geliatKu. Aku terdiam. Dan lupa rasanya. Aku mencari-cari rasanya. Masih berusaha mencari.

Lupa.

Tuan atau Nona Orgasme marah besar pada Dia. Dia yang sedang terkulai lemas di ujung sana merapikan dirinya sambil tersenyum dalam penuh kepuasan. Aku terkulai lemas di ujung sini masih mencari cara menikmati apa yang Dia nikmati.

Berusaha merangkak mendekati Dia yang masih terduduk membersihkan diri dengan mengacuhkan Tuan atau Nona Orgasme yang terus meracau.

“Bla-bla-bla- Jadi harus bla-bla-bla. Prat-pret-prot kalau mau bla-bla-bla. Pret-prot-bla-bla sebelum bla-pret-bla-prot.”

“Hei Kampret!” tunjuk Tuan Orgasme pada Dia yang dianggap egois.

Dia hanya terkulai lemas tak berdaya bagai habis ikut menjadi pasukan di perang dunia. Aku terus merangkak menggapai Dia. Merasa ada yang harus dituntaskan saat ini juga. Detik ini juga. Ada ganjalan yang ingin meledak di dalam sini.

Di dalam sana juga barangkali.
Disitu juga. Disini apalagi. Aduh, disana-sini masih bergelora.

Aku bingung menafsirkan mauKu sendiri. Aku terus berusaha menggapai Dia. Sampai Nona Orgasme meraih tanganKu yang terkulai lemas tak mampu lagi merangkak hanya mampu bersandar pada dinding-dinding kosong di dekat Ntah Siapa. Aku merapat pada Ntah Siapa.

“Kembali pada Dia,” ajak manis Nona Orgasme.

Aku mengacuhkan Nona Orgasme. Aku menengadahkan geloraKu pada Ntah Siapa. Aku memohon padanya dengan wajah berpeluh dan berselimut rangsangan.

“Aku lelah menghadapi Dia.”

Dia yang duduk di ujung sana melihat ke arahKu dengan wajah ingin tapi tak ingin.

“Tolong-bantu-Aku.Jangan-pergi-sebelum-padam.Aku-ingin-menggelinjang-Seperti Dia.Ingin-sekali.”

Ujarku pada Ntah Siapa sambil menunjuk Dua Lilin yang sedang saling menindih di ujung lain ruangan. Terus berpijar. Menggelora. Bersinar. Bersama menerangi ruangan sempit berisi properti ini.

“Dan-Seperti-Mereka.-Mereka.-Dan-Dia.-Dia.-Dia-juga.-Juga-Dia-dan-Mereka.”

Aku hanya ingin seperti Dia dan Mereka yang bergumul dalam perhelatan rasa dan raga di ujung sana tanpa rasa seperti bercinta dengan diri sendiri.

“Tolong jangan pulang sebelum geloraKu padam.”

Nona Orgasme tersenyum kepada Ntah Siapa dengan tatapan memohon.

“Aku letih menggelinjang tertahan. Rasanya lebih baik mati saja. Jadi tolong bunuh Aku kali ini dengan kenikmatan,” pinta Nona Orgasmpe pada Ntah Siapa.

Di ujung sana, Tuan Orgasme menempeleng kepala Dia berkali-kali.

“Dasar tolol! Sudah berapa kelas Kau ikuti tapi masih tolol juga?”
“Aa-kk-uuu hhaa-nn-..”

Satu tempelengan lagi mendarat pada Dia.

“Kembali ke Kelas Dasar. Dan jangan bercinta sebelum Kau tahu etikanya.”

“Bangsat!”
Aku tahu, satu umpatan yang akan Dia makikan di dalam hati tapi suara Hati terdengar sampai keluar. Tuan Orgasme melempar semangkuk sisa banjir bandang ke arah Dia. Dia tenggelam. Tenggelam mati dalam lautan spermanya.

“Ah, terima kasih Tuhan. Bukan Aku yang punah dalam kerontang.”

Nona Orgasme menari senang di antara banjir, tetesan peluh keringat, rasa dan raga yang sedang bergeliat.

“Semoga kali ini,-“

Nona Orgasme tersenyum genit pada Tuan Orgasme yang duduk di ujung sana memperhatikan dengan berdebar ke arah Ntah Siapa.

1 komentar: